Pusat Peradaban Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan Hindhu-Buddha Terbesar di pulai Jawa.

Siapa diantara kita yang tidak kenal dengan Candi Borobudur dan Candi Prambanan?, Rasanya sangatlah naif bagi kita yang tinggal di negara Indonesia, palagi Pulau Jawa, tidak mengenal atau mengetahui salah satu hasil cipta karya manusia terhebat yang pernah ada tersebut, tidak hanya di Indonesia, bahkan di dunia. Candi yang dibangun sekitar abad 8-9 Masehi oleh kerajaan Hindu-Budha terbesar di pulau Jawa yaitu Mataram Kuno ini merupakan bukti kemajuan teknologi di bidang arsitektur yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Hingga saat ini Candi Borobudur dan candi Prambanan masih menjadi ikon pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DIY karena selalu menjadi destinasi wisata yang banyak dikunjungi pada masa liburan anak sekolah, hal ini dikarenakan Candi Borobudur dan Candi Prambanan dapat menjadi media pembelajaran bagi siswa sekolah yang ingin mengetahui sejarah peradaban bangsa Indonesia.

Gambar Borobudur

Foto Candi Borobudur
Credit Foto: Bale Kim.

Bagaimana sebenarnya sejarah kerajaan Hindu-Budha terbesar di Pulau Jawa (Mataram Kuno)? Hal ini bisa kita pahami dengan melihat sejarah perjalanan kerajaan tersebut di Jawa Tengah. Menurut sejarahnya, sebelum lahir Kerajaan Mataram Kuno, di Jawa Tengah juga pernah terdapat suatu kerajaan Hindu-Budha yang cukup besar yaitu Kaling atau Kalingga, Kalingga dipercaya sebagai cikal bakal munculnya kerajaan Mataram Kuno. Keberadaan kerajaan Kalingga dan Mataram Kuno di Jawa Tengah terungkap dengan ditemukannya Prasasti Canggal di Gunung Wukir, Magelang, Prasasti Tuk Mas di daerah Grebeg, Magelang dan prasasti Sojomerto di daerah Batang.

Prasasti Canggal yang berasal dari tahun 732 M ini berisi tentang Raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga, puji-pujian kepada Brahma, Wisnu dan Siwa, puji-pujian tentang Tanah Jawa, bangunan suci di Kanjakurana, dan Sanjaya sebagai anak Sanaha, saudara perempuan Sanna. Prasasti tuk Mas berisi sanjungan terhadap tempat yang diibaratkan sebagai Sungai Gangga di India yang dianggap sebagai sungai suci. Di samping itu, juga memuat gambar gambar berupa trisula, kamandalu dan teratai yang digunakan sebagai simbol dalam ajaran agama Hindu. Isi Prasasti Sojomerto menyebutkan nama tokoh Dapunta Selendra yang mengaku sebagai anak Santanu dan Bhadrawati. Dapunta Selendra merupakan pengindonesiaan dari ejaan Sailendra dalam bahasa Sanskerta.

Mengenai jumlah dinasti yang pernah berkuasa di Jawa Tengah sebenarnya terdapat perbedaan pendapat di antara para ahli. Setidaknya ada dua pendapat mengenai keberadaan dinasti tersebut. Pendapat atau asumsi pertama dikemukakan oleh N.J Krom tahun 1931 dan J.G de Casparis tahun 1975 dan pendapat atau asumsi kedua dikemukakan oleh Boechari tahun 1966.

Asumsi pertama menganggap bahwa di Jawa Tengah pada masa Hindu-Budha terdapat dua dinasti, yaitu dinasti Sanjaya dan dinasti Sailendra. Asumsi ini didasarkan atas sebutan dua nama yang tercantum dalam prasasti Kalasan (778M), yaitu nama raja yang menghadiahkan tanah dan nama raja yang membangun bangunan suci bagi Dewi Tara di kalasan. Selain itu, Sanjaya dianggap sebagai nama dan pendiri dinasti karena penyebutannya di dalam prasasti Canggal (732M) dan disebut pula sebagai Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya.

Asumsi yang kedua didasarkan pada isi prasasti Sojomerto yang menyatakan bahwa hanya ada satu dinasti Sailendra dan pendirinya adalah Dapunta Selendra. Nama raja raja yang terdapat dalam prasasti-prasasti Jawa Tengah abad VII-X M merupakan raja raja yang berasal dari dinasti Sailendra yang sebagian menganut agama Hindu (Siwa) dan lainnya menganut agama Budha. Hal ini sesuai dengan tinggalan-tinggalan berupa bangunan candi yang tersebar di seluruh Jawa Tengah yang berlatar belakang agama Hindu dan Budha secara berdampingan.

Gambar Candi Prambanan
Credit Foto: Kate Stevens

Gambar Prambanan
Credit Foto: Soidera

Dinamika perjalanan sejarah kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah dapat tergambarkan dengan jelas melalui tinggalan-tinggalan arkeologis pada masanya baik yang bersifat artefaktual, ekofaktual, maupun fitur. Bukti – bukti artefaktual dapat ditunjukkan dengan ditemukannya kembali bangunan bangunan candi yang dibangun pada masa kejayaan Mataram Kuno. Bangunan candi, baik yang berlatar agama Hindu maupun Budha, terseba hampir di seluruh Jawa Tengah, namun dikarenakan kondisinya yang sudah lama dan dimakan usia banyak bangunan candi yang sudah tidak terlihat atau rusak dan tidak dapat ditemukan lagi asalnya.

Tinggalan Kerajaan Mataram Kuno

selama berkuasa di Jawa Tengah sebenarnya bukan hanya Candi Borobudur dan candi Prambanan tinggalan Kerajaan Mataram Kuno yang dapat dikategorikan sebagai mahakarya bangsa Indonesia. Banyak tinggalan lain kerajaan ini yang menunjukkan tingkat kemajuan teknologi yang cukup pesat pada masa itu. Banyak tinggalan lain yang dibangun pada masa kejayaan Mataram Kuno yang hingga saat ini masih bisa kita lihat, diantaranya adalah candi Mendut, candi Sewu, candi Plaosan, Candi Sari dan Candi Kalasan. Pada saat berkuasa, Kerajaan Mataram Kuno banyak membangun monumen keagamaan seperti candi, baik yang beraliran Hindu maupun Budha.

Terdapatnya dua jenis bangunan keagamaan yang berbeda di Kerajaan Mataram Kuno disebabkan oleh adanya dua dinasti besar yang berkuasa di kerajaan tersebut yaitu Dinasti Sanjaya yang beraliran Hindu dan Dinasti Sailendra yang beraliran Budha. Dinasti Sanjaya yang beraliran Hindu lebih banyak berpengaruh di bagian utara Jawa Tengah sedangkan Dinasti Sailendra yang beraliran Budha memiliki pengaruh yang kuat di selatan Jawa Tengah. Meskipun terdapat perbedaan aliran kepercayaan di antara kedua dinasti tersebut namun kehidupan keduanya cukup rukun pada masanya. Hal ini bisa nampak pada keberadaan dua bangunan candi yang berbeda aliran keagamaan pada satu kompleks seperti candi Sewu yang beraliran Budha berada satu kompleks dengan Candi Prambanan yang beraliran Hindu.

Selain candi candi yang telah disebutkan sebelumnya, sebenarnya masih banyak lagi tinggalan Kerajaan Mataram Kuno di sekitar Jawa Tengah yang menjadi bukti kebesaran kerajaan tersebut pada masanya. Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh ahli diketahui bahwa tinggalan-tinggalan tersebut terpusat di poros Kedu (Magelang) – Prambanan (Sleman). Kerajaan Mataram Kuno yang berkuasa di Jawa Tengah antara abad VIII sampai abad X Masehi diperkirakan berpusat di poros Kedu – Prambanan. Hal ini didasarkan pada fakta banyaknya tinggalan bangunan – bangunan monumental berupa candi yang sangat megah di kawasan tersebut.

Poros Kedu – Prambanan meliputi daerah daerah yang termasuk wilayah Kabupaten Magelang Provinsi Jawa Tengah, dan kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya daerah Prambanan. Di kawasan Kedu terdapat candi Borobudur, Candi Mendut, candi Pawon, Candi Ngawen dan masih banyak lagi candi candi yang ada di sekelilingnya. Sementara itu di kawasan sekitar Prambanan terdapat Candi Prambanan, Candi Sewu, Candi Plaosan Lor, Candi Plaosan Kidul, Candi Sari, Candi Kalasan, Candi Simbisari, dan candi candi lain di sekitarnya. Banyaknya peninggalan candi-candi besar dan megah menunjukkan indikasi adanya kota besar pada masa itu di daerah tersebut. Paling tidak dengan banyaknya bangunan keagamaan tersebut dapat dipastikan tentu di sekitarnya pernah terdapat komunitas yang menggunakan bangunan itu sebagai sarana ibadahnya.

Dimanakan Pusat Peradaban Kerajaan Mataram Kuno

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, diketahui bahwa poros Kedu-Prambanan merupakan pusat peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, karena banyaknya peninggalan kerajaan tersebut ditemukan di sana. Namun kemudian timbul pertanyaan besar apakah kedua daerah tersebut merupakan pusat Peradaban Kerajaan Mataram kuno.

Candi Prambanan yang berada di Sleman (Yogyakarta) merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno beraliran Hindu terbesar yang pernah ditemukan hingga saat ini. Sedangkan candi Borobudur yang terletak di Magelang (Jawa Tengah) hingga saat ini juga masih menjadi pusat keagamaan bagi penganut agama Budha di Indonesia. Kedua bangunan ini bisa jadi merupakan suatu indikator bahwa Sleman yang saat ini berada di wilayah administrasi Provinsi D.I Yogyakarta dan Magelang yang berada di bawah administrasi Provinsi Jawa Tengah merupakan pusat peradaban Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah sebelum berpindah ke Jawa Timur.

Indikator bahwa kedua daerah ini pernah menjadi daerah penting bagi Kerajaan Mataram Kuno juga bisa dilihat dari banyaknya temuan prasasti di kedua daerah tersebut dibandingkan daerah – daerah lainnya di Jawa Tengah dan DIY. Berdasarkan keterangan jumlah prasasti yang pernah ditemukan di Jawa Tengah, Magelang merupakan salah satu daerah dengan jumlah prasasti terbanyak, yaitu 19 buah. Kemudia diikuti sleman dengan jumlah prasasti 13 buah. Menurut Supratikno Rahardjo (Arkeolog UI), wilayah – wilayah di Jawa dimana prasasti ditemukan dalam jumlah besar sekaligus merupakan wilyah wilayah di mana sisa sisa monumen dan benda benda logam ditemukan dalam jumlah terbanyak, menunjukkan bahwa wilayah tersebut merupakan wilayah inti peradaban.

Namun demikian, kepastian mengenai dimana sebenarnya lokasi pusat peradaban dari kerajaan Mataram hingga kini belum bisa diketahui. Masih banyak penelitian yang perlu dilakukan sehingga kita dapat dengan tegas mengatakan dimana sebenarnya pusat peradaban Kerajaan Mataram Kuno. Apakah Magelang dan Sleman merupakan pusat peradaban Kerajaan Mataram Kuno hingga kini belum ada satupun peneliti yang berani menyimpulkannya. Masih perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam sehingga dapat disimpulkann dimana tepatnya letak pusat Peradaban Kerajaan Mataram Kuno.
[Sumber: Majalah Beranda Budaya, Edisi Tahun I November 2013 – Wacana- Fider Tendiardi.]

Kategori: Serba serbi .
Loading...

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *