Stasiun Poncol

Stasiun Semarang Poncol
Stasiun Poncol Semarang.
Alamat: Jl. Imam Bonjol No.115 Semarang.
Nomor Telepon: 024 3544496, 3556985, 3585092.

Stasiun Poncol Semarang ini merupakan salah satu karya peninggalan Henry Maclaine Pont, seorang arsitek jaman Belanda yang banyak berkiprah pada dunia arsitektur Indonesia. Beberapa detail elemen bangunan yang unik coba ditampilkan oleh sang perancang, misalnya pada tiang kayu di depan. Bangunan mempunyai integritas langgam arsitektur yang mengarah ke internasional Style, sesuai dengan zamannya dan mendirikan type bangunan perangkutan pada era modern. Keterkaitan bangunan dengan sejarah perkeretaapian di Semarang dan tokoh Maclaine Pont sebagai arsitek yang banyak jasanya dalam menonjolkan arsitektur Nusantara menambahkan arti penting bagi bagunan stasiun. Sebagai salah satu bangunan yang mewakili karya Maclaine Pont yang sedikit di Nusantara, bangunan Stasiun Poncol merupakan bangunan stasiun dengan kesinambungan fungsi yang masih dapat dilihat hingga kini.

Foto Stasiun Kereta Semarang Poncol

Stasiun Semarang Poncol berada dalam Daerah Operasional 4 Semarang. Stasiun ini adalah salah satu dari dua stasiun kereta api di kota Semarang. Dua stasiun kereta api di kota Semarang yaitu Stasiun Semarang Poncol dan Stasiun Semarang Tawang.

Stasiun ini dibangun pada tahun 1914. Stasiun ini semula milik SCS (Semarang – Cheribon Stoomtram Maatschappij). Stasiun ini kini menjadi tempat berhentinya kereta api kelas ekonomi. Bangunan stasiun ini dirancang oleh arsitek Henri Maclaine Pont, seorang arsitek Belanda.


Iklan-Gratis
Daftar Kategori Gedung Kuno, Serba serbi
Hashtag: , ,

16 Responses to “Stasiun Poncol”

  1. wakhid says:

    gmn sih tiket kok di permainkan calo…..
    puarah /…….tu petugasnya gmn….
    satpam aja pada jd calo……….
    cacat

  2. wakhid says:

    tolong diperhatikannnn……apa harus ke kpk aja nih

  3. Hery says:

    sing genah to pak, moso tilpune dihubungi ora iso????sg genah wae….
    aku meh pesen tiket, meh balik ora iso….kepriben sira???

  4. Yudha says:

    Betul sekali, ko telp ga diangkat2 sihh, padahal perlu informasi, bukannya PT KAI pelayanan masyarakat juga?

  5. po says:

    pg ini blora jaya ndak brngkt krn rusak,jan tnan..mbok yao ad pmberitahuan ditempel diloket jd kt ndak bingung..

  6. dini says:

    stasiun poncol mengingatkan pd sseorg

  7. dini says:

    w prnh nangis di stsiun poncol cz g dpt tiket to kjkarta….jd knangan terindah w sm cwo w….

  8. ali wado says:

    info blora jaya ac.kpn beroprasi lgi.?

  9. vnz says:

    Stasiun poncol itu gimana toh?
    Di telepon kok ga bisa

  10. yudi s says:

    Di stasiun poncol bisa parkir inap utk mobil tidak?berapa tarif nya?

  11. Parjo says:

    Sangat bersejarah ya stasiun poncol ini

  12. Otak Jagat says:

    KAlau kelas naik kelas ekonomi yang seharusnya turun di poncol tapi gak mau turun gara-gara tujuannya ke tawang.. bisa gak ya? ada yang pernah kayak gitu? soale aku udah terlanjur beli tiketnya turun di poncol padahal pengen turun tawang. gara-gara pertama kali

  13. YAYA says:

    TELEPONYA KOK GABISA YAAAA????????????????????????????????????????????????????????

  14. Fann says:

    parah…..nomor telponnya gak bisa di hubungi
    padahal mau tanya perubahan jadwal kereta api….
    kenapa institusi pemerintah servicenya selalu menuai complain ya….heran deh….

  15. Tarshysh Okva says:

    Untuk orang yg difabilitas pakai kursi roda gitu bisa turun distasiun poncol ga ya?

  16. Tigun Wibisana says:

    Saya tinggal tepat di depan stasiun ‘Pontjol’ ini di masa kanak-kanak hingga tahun 1972. Tepatnya di kompleks gedung Metrologi. Stasiun Pontjol dan lapangan rumput di depannya adalah tempat bermain kami sehari-hari.
    Seringkali saya mengagumi bangunan stasiun ini dan peralatan di dalamnya. Terutama kamar alat-alat pengendali rambu rel kereta api dan pengaturan rel yang dikendalikan dari satu ruangan besar dalam stasiun ini.
    Di depan stasiun inilah dulunya berjajar dokar kuda, gerobak sapi dan oplet-oplet tua yang sungguh mencengangkan, sehingga tak bosannya saya mengambil gambar dengan camera tua Canon QL kesayangan pemberian abang.
    Terus terang saja, saya agak sedih melihat gambar stasiun ini dengan bagian depan yang ditambahi dengan bangunan yang sungguh membuat arsitektur stasiun ini menjadi kelihatan sangat ‘ndlahom’.
    Saya sebagai orang yang pernah menjadi bagian dari kehidupan di sekitar statsiun ini, sungguh prihatin.

Leave a Reply